
Masyarakat
tempo dulu cukup arif menggunakan hutan. Hutan sebagai sandaran
kehidupan, tempat bertani dan berburu satwa diakui keberadaannya.
Bentangan hutan masih lestari sampai puluhan tahun. Mereka tidak sekedar
memahami pentingnya hutan untuk ketersediaan air dan udara. Tapi hutan
ada dalam hatinya berwujud kepercayaan sakral. Jangankan pohonnya
ditebang, beberapa hutan bahkan dilarang dimasuki. Istilah pamali dan
hutan larangan cukup ampuh mencegah pembalakan hutan.
Ada semacam
keyakinan bahwa roh para raja bersemayam di hutan. Misalnya Prabu
Siliwangi yang menjelma menjadi macan putih konon bersemayam di hutan
Sancang. Mitologi inilah yang menyebabkan masyarakat tempo dulu
menghormati hutan. Tidak semua hutan dibuka dan dimasuki. Banyak hutan
besar terlindungi secara alami disebabkan budaya yang dipegang teguh
walaupun tanpa aturan tertulis ataupun peraturan daerah seperti
sekarang.
Seiring perkembangan jaman, hal itu memang hanya mitos.
Sesuatu yang sekedar tahayul dan di luar logika. Namun kemudian timbul
pertanyaan di benak kita: Apakah hutan tidak lagi dihormati? Hutan
menjadi tak layak dilindungi? Tanahnya dijejak, pohonnya ditebang? Lalu
hutan jadi sah untuk dijarah?
Objek wisata hutan Sancang terletak
2 km dari pusat Kecamatan Pameungpeuk, 20 km dari kota Kabupaten Garut
dan 180 km dari Bandung. Objek ini dapat dicapai dari dua tempat, yaitu
Pameungpeuk dan pantai Cijeruk Indah. Untuk mencapai ke sana, dari
Pameungpeuk pengunjung dapat menggunakan bus ke jurusan perkebunan karet
Mira-Mare yang rutenya melalui pinggir kawasan dengan tarif Rp.
3.000/orang, atau angkot dengan tarif Rp. 4.000/orang. Apabila
menggunakan ojeg, tarifnya Rp. 7.500 dari Pameungpeuk dan Rp. 3.500,-
dari pantai Cijeruk Indah.
Bus yang melalui daerah ini hanya 3
bus/ hari. Jalan menunju ke hutan ini adalah kelas jalan kecamatan dan
dengan lebar jalan 3 m, dan jalan desa selebar 2,5 m, serta jalan
setapak (foot trail) selebar 0,5 m. Pada umumnya kondisi jalan dalam
keadaan sedang diperbaiki. Diantaranya dalam kondisi rusak, jalan kelas V
sepanjang 75 km dengan kondisi rusak. Jembatan berjumlah 5 buah
jembatan beton sepanjang 27 m.
Hutan Sancang merupakan hutan alami, dan terletak di bagian selatan Kabupaten Garut, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya
di Desa Sancang Kecamatan Cibalong
dan memiliki luas 2.157 ha. Wilayah ini berada di ketinggian 0-3 m di
atas permukaan laut. Tebing-tebing curam terdapat di sebagian pesisir
pantai, khususnya di daerah sebelah timur yaitu wilayah Karang Gajah.
Hutan
yang langsung bersentuhan dengan Samudra Indonesia ini mempunyai
temperatur rata-rata 270 C per tahun, dengan suhu antara 170 C-280 C.
Material tanahnya berpasir dan tanah gambut di bagian pesisir, sedangkan
di daerah yang mempunyai radius 200 m dari garis pantai memiliki
material tanah daratan pada umumnya, yaitu tanah hitam berbatu dengan
tingkat kestabilan dan daya serap tanah yang cukup baik.
Kondisi
lingkungan wilayah Hutan Sancang termasuk ke dalam kategori bentang alam
yang baik dan menarik serta unik. Hutan Sancang juga merupakan cagar
alam yang dilindungi dan memiliki ekosistem hutan tropis. Kualitas
lingkungan dan kebersihannya pun masih terjaga, walaupun di bagian
timur, yaitu di pesisir pantai, terdapat pondok nelayan yang menetap dan
memanfaatkan lahan di area konservasi ini.
Di hutan ini tidak
terdapat pencemaran (air, tanah, udara, sampah atau vandalisme), akan
tetapi sering terjadi penebangan liar, perambahan hutan dan
penjarahan/pencurian kayu, khususnya kayu meranti merah yang tergolong
tumbuhan langka. Perambahan hutan tersebut telah menurunkan tingkat dan
kualitas lingkungan Hutan Sancang dan menyebabkan kerusakan yang cukup
serius.
Pada saat ini perusakan Cagar Alam Hutan Sancang telah
mencapai lebih dari 200 ha. Hal tersebut, juga sangat berpengaruh bagi
kelangsungan ekosistem setempat. Apabila dilihat dari segi visabilitas,
hutan Sancang memiliki tingkat pandang yang bebas dengan panorama alam
yang indah dan eksotis, namun apabila berada di dalam hutannya, maka
akan sulit untuk melihat kearah pantai karena susunan tumbuhan/pepohonan
di Hutan Sancang sangat rapat.
Daya tarik utama yang terdapat di
cagar alam ini adalah hutan yang masih asri dengan ekosistem yang unik
dan pemandangan alam indah. Di hutan ini terdapat hutan bakau, sungai,
berbagai jenis flora dan fauna, dan gugusan-gugusan batu yang
menimbulkan panorama alam yang unik. Flora dominan yang terdapat di
Hutan Sancang antara lain pohon ketapang, pohon bakau, tumbuhan Sorea,
palahlar (Dipterocarpus spee.div), serta jenis tumbuhan/ flora pantai
seperti agar-agar laut (Gracilaria, SP1), trumbu karang (Afluda mutica),
paris (Mycrophyllum bracilieneis), kades (Gelidium lam) dan juga flora
lain yang beragam jenisnya termasuk pohon meranti merah dan pohon Kaboa
(Dipteroearpus gracilis) yang langka. Sedangkan fauna yang dominan di
hutan ini antara lain banteng (Bos sonda/cus), macan tutul, monyet,
lutung, dan burung merak.
Hutan Sancang yang merupakan salah satu
cagar alam di Indonesia yang bertaraf Internasional ini belum tersentuh
oleh fasilitas pariwisata secara khusus. Untuk fasilitas penunjang di
Hutan Sancang hanya terdapat 1 pos jagawana serta petugas yang berjumlah
180 orang. Untuk aktivitis yang dapat dikembangkan di Hutan ini adalah:
tracking, fotografi, menelusuri hutan, penelitian ekosistem alam,
memancing, berkemah, dan aktivitas-aktivitas yang tidak merusak dan
mengganggu ekosistem hutan.
Adapun mayoritas pengunjung yang
datang ke Hutan Sancang ini berasal dari Garut, Bandung dan Jakarta.
Landasan hukum kawasan hutan wisata ini ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Pertanian Nomor: 116/Um/1959 tanggal 1 Juli dengan luas wilayah
laut sekitar 150 ha dan kini dikelola oleh Departemen Kehutanan.
Dulu,
selain dikenal keangkerannya. Sancang juga memendam berbagai cerita
yang unik. Menurut sumber tradisional, Sancang dahulu kala merupakan
wilayah kerajaan. Salah satu penguasanya yang termashur dikenal dengan
nama Rakean Sancang. Cerita ini juga didukung oleh beberapa situs
purbakala yang diyakini sebagai bekas-bekas peninggalan Kerajaan
Sancang.
Hutan Sancang adalah hutan yang dilegendakan sebagai
tempat tilem (tempat hilangnya) Prabu Siliwangi. Di hutan ini juga
terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove) yang menurut
kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit Pajajaran yang
setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini dipercaya
sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan masyarakat
lokal.
Nama Sancang yang tersusun dari huruf-huruf Sancang dipercaya memiliki arti khusus, yaitu :
S
mempunyai arti : Sasakala asal usul carita sesepuh urang-urang sadaya,
yang berarti Hutan Sancang merupakan tempat asal usul nenek moyang kita
semua.
A mempunyai arti: Anu luhur tur ngahiang, yang berarti daerah
Sancang adalah daerah keramat dan sejak zaman dahulu sudah dikenal.
N
mempunyai arti: Nyata sarta talapakuran tah ku aranjeun manusa, yang
berarti Hutan Sancang adalah nyata dan perlu untuk dikaji oleh setiap
manusia.
C mempunyai arti: Cacandran carita sesepuh urang sadaya,
yang berarti Sancang adalah asal usul cerita tentang nenek moyang kita
semua.
A yang kedua mempunyai arti: Aya nya carita Pasundan/ Padjajaran, yang berarti asal-mula dari kerajaan Pasundan dan Padjajaran.
N
mempunyai arti: Nagri Padjajaran tilas Siliwangi, yang berarti Hutan
Sancang merupakan salah satu wilayah negeri Padjajaran peninggalan
Siliwangi.
G mempunyai arti: Goib di Sancang Pameungpeuk Garut, yang
berarti Hutan Sancang mempunyai cerita gaib dan setiap manusia harus
mempercayai hal-hal yang gaib.
Seperti pada kawasan konservasi
umumnya, tidak ada sarana pariwisata di hutan ini, baik yang berupa
fasilitas akomodasi ataupun rumah makan, tetapi apabila pengunjung ingin
bermalam dapat menggunakan fasilitas akomodasi terdekat yang terletak
di Kecamatan Pameungpeuk. Untuk fasilitas rumah makan juga terdapat di
Kecamatan Pameungpeuk, sekitar 13 km dari pusat pemerintahan kecamatan.
Namun
cerita dari hutan ini yang paling populer tentu saja mitos mengenai
harimau (maung) Sancang, atau lebih dikenal sebagai Maung Kajajaden.
Cerita tentang Harimau Sancang banyak diyakini bukan cuma isapan jempol.
Konon banyak orang yang melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan
harimau di hutan tersebut. Menurut cerita itu pula, harimau-harimau di
Sancang bukanlah sembarang harimau. Hewan itu konon jelmaan dari Prabu
Siliwangi - Raja Pajajaran - serta anak buahnya yang ngahiang
(menghilang). Mereka kemudian berubah ujud menjadi harimau karena
dikejar-kejar oleh Kian Santang, putera Prabu Siliwangi sendiri, karena
tidak mau masuk Islam dan dikhitan.
Banyak orang percaya bahwa
harimau-harimau itu bisa berubah ujud kembali menjadi manusia. Manusia
jadi-jadian ini sering berkeliaran di sekitar Sancang, bahkan ada di
antaranya yang memperistri manusia biasa. Yang membedakannya dengan
manusia biasa, manusia harimau ini konon katanya tidak memiliki
ruruncang (lekukan di bawah hidung).
Yang jelas, hutan ini memang
unik. Banyak dari jenis fauna dan flora yang ditemukan di hutan ini
sulit ditemukan di tempat lain. Oleh karena itulah, pemerintah melalui
Mentri Kehutanan pada 1978 menetapkan hutan Sancang sebagai hutan
konservasi (suaka margasatwa) yang dilindungi. Di hutan ini dulu banyak
ditemukan merak, julang, banteng, harimau Jawa, dan kancil. Juga
ditemukan pohon reunghas dan kaboa yang disinyalir hanya tumbuh di hutan
ini. Konon, jika menjelajahi hutan Sancang dan tidak ingin diganggu
harimau, kita harus membawa kayu kaboa sebagai jimat pelindung. Bahkan
bisa digunakan untuk memanggil harimau kajajaden, dengan cara
diketrukkeun kana taneuh, dimana pun kita berada.
Karena
keunikannya pula, hutan ini menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi
wisatawan. Baik wisatawan yang hendak menikmati keindahan alamnya,
maupun wisatawan yang hendak berziarah ke situs-situs purbakala.
Sayangnya, keadaan Sancang kini sangat jauh berbeda dengan hutan Sancang
yang dulu. Keangkeran hutan ini mulai lenyap seiring dengan banyaknya
pepohonan yang ditebang perambah liar. Sebagian lahannya dijadikan
ladang pertanian.
Menurut penelitian tahun 2004, hampir setengah
dari luas areal hutan Sancang telah hancur. Kekayaan flora dan faunanya
banyak yang ikut hilang. Pengunjung jarang menemukan hewan-hewan khas
hutan ini karena habitatnya dirusak. Bahkan pernah tersiar kabar banteng
sancang sempat ditemukan berkeliaran di perkampungan penduduk. Sancang
Ilang dangiang, yang artinya Sancang kehilangan jati dirinya, walaupun
upaya-upaya reboisasi terus dilakukan untuk mengembalikan hutan ini
seperti keadaannya semula.
Catatan :
Meskipun
telah menyisakan pilu, hutan Sancang masih tetap memberikan kenangan
yang berharga. 5 jenis primata yang terdapat di pulau Jawa masih dapat
kita temukan semuanya di hutan ini. Monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis), Lutung Jawa (Trachypitechus auratus), Surili (Presbytis
comata), Owa Jawa (Hylobtes moloch) dan Kukang Jawa (Nycticebus
javanicus) adalah primata-primata yang hanya terdapat di pulau Jawa
(endemik). Primata-primata endemik cenderung cukup rentan terhadap
ancaman yang terjadi pada habitatnya. Sehingga diperlukan juga
perlindungan terhadap habitatnya.
(http://agungsmail.wordpress.com/2008/10/page/4/)
Sumber :
Dr Rochajat Harun Med
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&jd=Objek+Wisata+Hutan+Sancang&dn=20090227095940
27 Februari 2009
http://info-garut-selatan.blogspot.com/
Sumber Gambar:
http://agungsmail.files.wordpress.com/2008/10/lokasi-primata-di-sancang2.jpg
http://sunda.garutkab.go.id/pub/static_menu/detail/sekilas_garut_kini